nusantarasibernews.com–Permintaan akan tenaga kerja digital di Indonesia terus meningkat seiring dengan pesatnya penerapan kecerdasan buatan (AI) di berbagai bidang. Pemerintah bahkan menaikkan target pengembangan tenaga kerja digital menjadi 12 juta orang pada 2030.
Namun, partisipasi perempuan dalam bidang teknologi masih tergolong rendah. Di tengah tantangan tersebut, lebih dari 400 siswi dari 10 sekolah di Karawang dan Bekasi mengikuti acara Amazon Girls’ Tech Day yang diselenggarakan oleh Amazon bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) pada 7 Februari.
Pertama kalinya di Indonesia, program ini diperluas mencakup jenjang SD, selain SMP dan SMA. Tindakan ini dinilai sesuai untuk mengembangkan minat teknologi sejak dini, khususnya bagi perempuan yang sering menghadapi prasangka dalam bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika).
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan perlunya partisipasi generasi muda dalam memenuhi kebutuhan sumber daya digital nasional.
“Tujuan kami pada tahun 2030 adalah menciptakan 12 juta tenaga digital. Angka ini tidak akan tercapai tanpa partisipasi perempuan muda. Kami berharap semakin banyak pemuda memahami bahwa teknologi merupakan alat pemberdayaan yang kuat, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan negara,” kata Meutya Hafid.
Relevansi ini sesuai dengan perkembangan industri. Laporan AWS dan Strand Partners menunjukkan bahwa 28 persen pelaku usaha di Indonesia telah memanfaatkan AI, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 47 persen pada 2025. Namun, 57 persen perusahaan masih menghadapi kendala dalam kekurangan keterampilan digital.
Manajer Regional Indonesia untuk Operasi Pusat Data Amazon Web Services (AWS), Winu Adiarto, menyatakan bahwa perluasan program hingga jenjang SD merupakan bagian dari strategi dalam mempersiapkan kesiapan sejak dini.
“Indonesia sedang bersiap mengadopsi AI. Kami menyesuaikan program tahun ini agar mencakup AI dan teknologi serupa lainnya, sambil memperluas jangkauannya kepada siswi SD. Tujuan kami adalah membangkitkan minat dan menciptakan rasa percaya diri sejak dini,” ujar Winu Adiarto.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti workshop berbasis proyek yang disesuaikan dengan usia. Siswi SD diperkenalkan pada konsep AI dancodingdasar melalui kegiatan yang interaktif. Di sisi lain, peserta SMP dan SMA belajar pengembangangame, dasar-dasar robotika, hingga pembahasan mengenai karier di bidang data dan AI.
Kepala Eksekutif PJI Utami Anita Herawati menganggap bahwa intervensi sejak jenjang sekolah dasar sangat penting dalam mengatasi ketimpangan gender di bidang teknologi.
”Selama ini, bidang AI, gaming, dan teknologi canggih sering dianggap sebagai wilayah khusus laki-laki. Kami berupaya menghilangkan prasangka ini dengan memberikan pengalaman nyata dan sesuai bagi siswi dari SD hingga SMA,” ujar Utami Anita Herawati.
Perspektif dari industri juga diungkapkan oleh Cecilia Astrid Maharani, VP Data & AI di Mekari. Ia menyoroti kurangnya minat perempuan terhadap jalur karier di bidang teknologi.
“Saat ini, kurang dari 5 persen perempuan memilih teknologi sebagai jalur karier utama mereka. Namun, variasi pandangan sangat diperlukan untuk menciptakan inovasi yang berarti. Tidak ada batasan bagi perempuan dalam berpartisipasi di bidang teknologi,” ujar Cecilia Astrid Maharani.
Di sisi lain, Riris Marpaung, Co-Founder Indonesia Women in Game, menilai sektorgamingkini memberikan kesempatan karier yang semakin luas.
”Karya gamekarya-karya dari bakat-bakat Indonesia semakin dihargai di pasar internasional dan mendapatkan penghargaan global. Dunia permainan tidak hanya tentang hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat komunikasi, empati, serta kemampuan kepemimpinan,” kata Riris Marpaung.
Dari segi pendidikan, Kepala Sekolah PKBM Baitul Hasanah Cikarang Abdullah Mukhlis mengamati manfaat positif dari program tersebut terhadap siswi yang mengalami keterbatasan akses teknologi.
“Girls’ Tech Day memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga. Meskipun sebagian besar siswi kami menghadapi keterbatasan akses teknologi, mereka menunjukkan semangat dan antusiasme yang luar biasa. Program ini memberikan mereka keterampilan yang penting untuk masa depan,” ujar Abdullah Mukhlis.
Meskipun berlangsung dalam waktu yang terbatas, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan inklusi digital dan memperluas partisipasi perempuan di bidang teknologi. Dengan meningkatnya kebutuhan akan tenaga ahli dan semakin luasnya penerapan AI, membangun dasar yang kuat sejak masa sekolah dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk daya saing Indonesia.







