⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Banner Header Atas
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

Waktunya Berpindah dari Hilirisasi ke Reindustrialisasi

Headline37 Dilihat
PROFIL PENULIS
Muhammad Syarkawi Rauf
Penulis merupakan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin serta Ketua Komisi Perlindungan Persaingan Usaha Republik Indonesia, masa jabatan 2015 – 2018.

⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Tengah Artikel
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

PERAIHPenghargaan Nobel Ekonomi Tahun 2025, Joel Mokyr dalam bukunya “The Holy Land of Industrialism”: Rethinking Industrial Revolution yang diterbitkan oleh Journal of British Academy pada 21 Agustus 2021 mengemukakan bahwa industrialisasi sejak abad ke-18 di sebuah negara selalu ditandai dengan kepemimpinan di bidang teknologi.

Revolusi industri di Inggris pada tahun 1760 dan dominasi negara ini dalam teknologi hingga tahun 1850 didukung oleh adanya tenaga kerja yang memiliki keterampilan tinggi.

Perkembangan industri di Inggris ditandai dengan munculnya inovasi dan penemuan yang meningkatkan efisiensi serta kemampuan produksi.

Hal ini berlangsung hingga akhir abad ke-19 dengan proses industrialisasi di Amerika Serikat (AS) yang ditandai oleh kepemimpinan teknologi yang didorong oleh inovasi terbaru. Pada awal abad ke-20, industrialisasi di Jepang dan Korea Selatan (Korea) beralih dari inovasi baru atau penemuan baru menjadi fokus pada pembelajaran untuk mengadopsi teknologi canggih dari Eropa dan AS.

Narasi Hilirisasi

Sejarah proses industrialisasi yang dimulai dari Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat hingga Jepang dan Korea menunjukkan bahwa untuk menjadi sebuah negara maju tidak cukup hanya dengan menciptakan narasi hilirisasi, yakni memberikan nilai tambah (dawn streaming) terhadap ekspor Sumber Daya Alam (SDA).

Narrasi pengembangan hilir yang dilakukan dengan baik hanya akan menjadikan sektor industri manufaktur nasional sebagai bagian dari rantai pasok global.

Industri dalam negeri turut serta dalam perdagangan intra-industri (IIT) global, misalnya dalam industri mobil listrik melalui pengolahan nikel sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Hal ini menyebabkan industri lokal kehilangan peluang untuk mengembangkan industri mobil listrik nasional.

Tidak akan ada perubahan signifikan dalam besarnya kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional melalui narasi hilirisasi sumber daya alam. Dengan kata lain, hilirisasi tidak mampu mengubah arah dari deindustrialisasi menjadi reindustrialisasi. Sejak awal tahun 2000-an, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB terus menurun hingga mencapai 18,98 persen pada tahun 2024.

Baca Juga  Eksekusi Terpidana Kasus Korupsi Mantan DLH Kabupaten Bekasi

Sebagai contoh, pengalaman Jepang dalam membangun industri mereka yang bersifat pemerintah yang memimpin industrialisasi, di mana pemerintah Jepang mengarahkan perkembangan industri manufaktur. Pemerintah Jepang menerapkan strategi nasional champion, yaitu menentukan dan mendukung industri unggulan nasional agar dapat bersaing di pasar ekspor.

Industri otomotif Jepang, yang menjadi juara nasional, dipimpin oleh perusahaan seperti Toyota, Honda, Suzuki, Yamaha, Nissan, dan Mitsubishi yang sangat diminati di pasar mobil Indonesia. Awalnya, perusahaan-perusahaan ini beroperasi dengan skala kecil, namun kemudian berkembang menjadi perusahaan besar secara global berkat dukungan kebijakan pemerintah.

Pemerintah Jepang menetapkan sektor baja, pembuatan kapal, semikonduktor, dan elektronik sebagai industri prioritas. Dukungan paling signifikan dari pemerintah adalah menciptakan lingkungan industri yang mendukung pertukaran teknologi, yaitu dengan mengimpor teknologi dari negara maju, menyesuaikan, serta melakukan inovasi secara mandiri.

Pemerintah Korea juga menerapkan industrialisasi yang dipimpin oleh negara dengan beberapa sektor industri menjadi industri unggulan nasional. Contohnya, industri baja yang dipimpin oleh POSCO, elektronika dengan Samsung dan LG, industri otomotif melalui Hyundai Motor Company, serta pembuatan kapal oleh Hyundai Heavy Industries, Daewoo, dan Samsung.

Strategi yang sama dilakukan oleh pemerintah Tiongkok, yaitu industrialisasi yang dipimpin negara dengan industri nasional unggulan di bidang otomotif, khususnya kendaraan listrik yang menjadikan Tiongkok sebagai pemain utama secara global dalam industri mobil listrik. Demikian pula untuk sektor elektronika, semikonduktor, pembuatan kapal, dan lainnya.

Narasi Reindustrialisasi

Mengambil pelajaran dari pengalaman negara-negara maju saat ini, pemerintahan Prabowo Subianto seharusnya beralih dari narasi hilirisasi yang dulu digaungkan oleh Presiden Jokowi sepuluh tahun lalu menuju narasi reindustrialisasi.

Strategi yang dipilih adalah industrialisasi yang dipimpin pemerintah dengan industri nasional unggulan yang menjadi tulang punggung dalam bersaing di pasar ekspor. Pemerintah menentukan industri prioritas yang didukung oleh kebijakan pemerintah dalam ekosistem industri yang memastikan keterkaitan antara industri inti, industri pendukung, dan industri terkait.

Baca Juga  Ramalan Zodiak Leo dan Virgo, 15 Februari 2026: Leo Dukungan Lengkap!

Selanjutnya, apa tindakan yang bisa diambil oleh pemerintahan Prabowo Subianto untuk berpindah dari hanya hilirisasi menuju reindustrialisasi serta mengubah arah deindustrialisasi menjadi reindustrialisasi?

Langkah pertama adalah menciptakan konsentrasi industri di setiap wilayah. Awalnya, pemerintah secara sentral menentukan klaster industri tertentu sebagai sektor unggulan nasional yang berbasis di setiap provinsi sesuai keunggulan sumber dayanya, baik Sumber Daya Manusia (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA).

Sebagai contoh, ekosistem atau kawasan industri perikanan laut dapat dikembangkan di Maluku yang selama ini memiliki keunggulan kompetitif dalam produk perikanan laut. Harapanannya, Indonesia dapat menciptakan satu merek dagang di bidang perikanan laut yang memiliki daya saing kuat di pasar ekspor.

Sementara klaster industri karet alam dapat berada di Sumatera Selatan (Sumsel). Sebelumnya, Sumsel merupakan wilayah dengan luas lahan karet alam terbesar di Indonesia. Tujuannya adalah agar Indonesia mampu menghasilkan produk turunan dari karet alam, seperti sarung tangan latex dan nitrile yang selama ini didominasi oleh Top Glove Corporation Berhard, Malaysia.

Langkah kedua, peningkatan efisiensi dan produktivitas industri terkini tidak lagi bergantung pada inovasi teknologi yang berasal dari luar. Proses industrialisasi terbaru ditentukan oleh faktor internal, yaitu seberapa cepat suatu negara menerima teknologi baru dari negara maju melalui investasi asing langsung (FDI).

Aliran investasi asing memerlukan peningkatan efisiensi dan produktivitas nasional. Oleh karena itu, salah satu prioritas nasional adalah melakukan reformasi struktural agar menurunkan angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang saat ini sangat tidak efisien, yaitu antara 6,25 hingga 6,50 menjadi sejajar dengan rata-rata ICOR negara ASEAN sekitar 3,5 hingga 4,0 pada tahun 2025.

Langkah ketiga adalah meningkatkan Indeks Kekompleksan Ekonomi (ECI) guna meningkatkan produktivitas pengetahuan dan sumber daya manusia yang terlihat dari diversifikasi serta kesulitan produk-produk ekspor nasional. Faktanya, dalam 26 tahun terakhir, sejak awal tahun 2000-an, peringkat ECI Indonesia justru semakin menurun, dari posisi 49 pada tahun 2000 menjadi 72 pada tahun 2023.

Baca Juga  Program MBG, Mulia Atau Bencana?

Hal ini menunjukkan bahwa produk ekspor Indonesia semakin tergantung pada hasil eksploitasi sumber daya alam yang belum diproses dan memiliki nilai tambah rendah. Kondisi ini selaras dengan peran sektor manufaktur dalam membentuk PDB Indonesia yang mengalami penurunan dari 32 persen pada tahun 2000 menjadi 18,98 persen.

Langkah keempat, prioritas strategis yang mendesak bagi Sovereign Wealth Fund Danantara (SWFD) adalah melakukan investasi untuk mengembangkan kawasan industri yang berbasis pada komoditas unggulan daerah.

Langkah teknisnya, menghidupkan kembali kawasan industri di wilayah yang selama ini hanya berfungsi sebagai kawasan gudang tanpa aktivitas pengolahan.

Pemilihan kebijakannya ialah mendorong pertumbuhan industri yang berbasis SDA dengan menggunakan industri berbasis teknologi menengah di luar Pulau Jawa serta industri berbasis teknologi tinggi yang memerlukan tenaga kerja terampil, didukung oleh lembaga pelatihan, riset, dan pengembangan yang dibangun di Pulau Jawa.

Akhirnya, mengalihkan narasi hilirisasi menjadi narasi reindustrialisasi dapat membantu keluar dari fenomena “traps pertumbuhan 5 persen”. Untuk itu, sebagai penutup, sebaiknya merujuk pada fisikawan terkenal, Albert Einstein, yang mengatakan, “kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda”. Seperti mobil, saatnya beralih dari “gigi tiga ke gigi enam”, mengubah pola pikir dan tindakan menuju status negara maju pada tahun 2045.

⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Banner After Content
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *