Program MBG, Mulia Atau Bencana?

Headline32 Dilihat

Ir. Ridar Hendri MSi PhD

Ahli komunikasi pembangunan dari Universitas Riau

Dalam dua bulan terakhir, sejumlah kecil orang, dan netizen, mengkritik serta menyerang pelaksanaan program makanan bergizi gratis (MBG) yang dilaksanakan oleh Presiden Prabowo.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, gizi, dan pendidikan anak-anak (peserta PAUD hingga SMA, ibu hamil dan menyusui). Karena, perkembangan otak dan kesehatan manusia dimulai dari masa janin dan anak-anak. Oleh karena itu, perlu dipastikan bahwa mereka menerima makanan bergizi sejak dini.

Menyediakan makanan untuk 92,9 juta anak secara bersamaan memang tidak mudah. Oleh karena itu, pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak dari kalangan masyarakat, guna menyediakan Dapur MBG.

Kantin merupakan unit pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang dijalankan di bawah pengawasan Badan Gizi Nasional guna menyediakan makanan yang sehat, bernutrisi, dan bersih bagi siswa. Mereka mengolah makanan dengan menu sesuai pedoman ahli gizi dan didistribusikan langsung ke sekolah tujuan.

Hingga akhir tahun 2025, jumlah dapur MBG atau SPPG telah mencapai 15.000 unit, dan terus meningkat hingga nanti mencapai 30.000 unit. Diketahui memang, dalam penerapannya, terdapat beberapa kasus keracunan makanan pada anak-anak sekolah yang disebabkan oleh SPPG.

Tentu, berikut beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Inilah jenis kasus yang menjadi sasaran serangan oleh sekelompok orang dan netizen. 2. Kejadian-kejadian semacam ini sering kali menjadi target bagi sebagian orang dan pengguna internet. 3. Kasus-kasus seperti ini sering kali mendapat serangan dari sejumlah individu dan netizen. 4. Fenomena seperti ini adalah hal yang kerap diserang oleh sekelompok orang dan pengguna media sosial. 5. Peristiwa-peristiwa semacam ini sering kali menjadi perhatian dan serangan dari sebagian masyarakat serta netizen.

Baca Juga  Warren Buffet Bocorkan 7 Kebiasaan Harian untuk Bangun Kekayaan Besar

Mereka menyarankan agar program MBG tidak lagi diberikan melalui SPPG, tetapi langsung diserahkan dalam bentuk uang tunai kepada orang tua siswa yang dituju.

Ide atau rekomendasi ini agak tidak masuk akal. Karena, siapa yang bisa memastikan uang tunai bantuan MBG benar-benar digunakan orang tua untuk menyediakan makanan bergizi standar bagi anaknya yang memang menjadi sasaran dari MBG?

Bukankah uang itu juga bisa digunakan, tanpa kita tahu, untuk melunasi utang, hanya membeli ikan asin untuk banyak anak-anaknya? Jika hal ini terjadi, tujuan pemberian MBG ini tidak akan tercapai. Bahkan, bisa saja menimbulkan masalah baru.

Kemudian, mengapa sejumlah orang dan netizen tersebut bersikeras mengkritik dan menyerang pemerintah? Ada dua kemungkinan alasan.

Pertama, memang terdapat kekhawatiran mereka bahwa kualitas gizi yang diberikan kepada siswa melalui dapur MBG mengalami penurunan dari standar yang ditetapkan pemerintah, akibat tindakan tidak sesuai dari oknum dapur MBG seperti memangkas anggaran makanan.

Kedua, terdapat rencana tersembunyi mereka secara politik untuk menyerang pemerintah, dan akhirnya menjatuhkan Presiden.

Saya menduga, alasan kedua menjadi penyebabnya. Karena, jika hanya khawatir terhadap ancaman keracunan makanan, cukup meningkatkan pengawasan produksi makanan di dapur MBG saja.

Maka, kata pepatah: jika ingin membunuh tikus, jangan membakar lumbung.

Menurut saya, program MBG perlu terus berjalan. Ini bukanlah program yang hanya sekadar menonjolkan pemerintah. Program ini memiliki tujuan mulia, yaitu mempersiapkan generasi unggul Indonesia untuk masa depan.

Itulah alasan mengapa banyak negara telah lama menerapkan program.

Negara-negara tersebut mencakup Brasil, India, Finlandia, Swedia, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, serta beberapa negara sekitar seperti Malaysia, Thailand, dan Timor Leste.

India memiliki program makan siang gratis terbesar yang mencakup sekitar 125 juta anak berusia 6 hingga 14 tahun. Brasil memiliki National School Feeding Programme yang telah beroperasi sejak akhir 1940-an untuk memperkuat kesehatan anak, di mana 30 persen bahan baku berasal dari pertanian lokal.

Baca Juga  Ramalan Cinta Valentine 2026: Pesan Paling Mengena untuk Setiap Bulan Kelahiran

Finlandia adalah salah satu negara pionir yang menawarkan makan siang gratis kepada seluruh siswa berusia 6 sampai 16 tahun. Swedia menyediakan makan siang gratis bagi siswa yang berusia 7 hingga 19 tahun. Jepang menghadirkan program makan siang sekolah yang terkait dengan pendidikan karakter serta kebiasaan makan sehat.

Korea Selatan menyediakan makanan yang seimbang (daging, sayuran, beras) kepada para siswa. Bahkan Amerika Serikat melalui Program Makan Siang Sekolah Nasional (NSLP), menyediakan makanan bergizi di sekolah.

Demikian pula negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand (School Lunch Program), Estonia, Kanada, Australia, Prancis, Kenya, dan Skotlandia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *