Ringkasan Berita:
- Sebanyak 168 orang tewas akibat serangan yang terjadi di Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh, Kota Minab, Iran. Mayoritas korban merupakan anak-anak yang sedang berada di dalam kelas.
- Meskipun belum ada pihak yang secara resmi mengakui tanggung jawab, bukti-bukti yang dikumpulkan oleh media Amerika Serikat menunjukkan dengan jelas adanya keterlibatan militer AS.
- Salah satu bukti video menunjukkan gumpalan asap tebal yang muncul dari pangkalan militer Iran dan sekolah secara bersamaan setelah serangan udara Amerika Serikat.
nusantarasibernews.comSerangan udara menyerang Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh, Kota Minab, Iran Selatan, pada Sabtu (28/2/2026).
Sebanyak 168 orang tewas akibat serangan tersebut. Mayoritas korban merupakan anak-anak yang sedang berada di dalam kelas belajar.
Siapa yang bertanggung jawab terhadap kejadian itu?
Meskipun belum ada pihak yang secara resmi mengakui tanggung jawab, bukti-bukti yang dikumpulkan oleh media Amerika Serikat menunjukkan dengan jelas keterlibatan militer AS.
Pejabat pemerintahan Trump dilaporkan memberikan arahan rahasia kepada anggota DPR.
Dua pejabat Amerika Serikat yang berbicara kepada NBC News mengungkapkan bahwa pemerintah mengakui bahwa militer AS sedang melakukan serangan terhadap area di Iran yang merupakan lokasi sekolah tersebut.
Pejabat administrasi menekankan kepada para pengambil kebijakan bahwa mereka memahami bahwa serangan tersebut tidak dilakukan oleh pasukan Israel (IDF).
Meskipun Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat “masih melakukan penyelidikan” dan “tidak pernah menargetkan warga sipil”, di balik layar mereka mengakui bahwa pasukan AS beroperasi di area tersebut saat terjadi ledakan.
Sampai saat ini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan teori atau bukti lain yang mampu membantah bahwa serangan tersebut berasal dari pihak mereka.
Penelitian The New York Times (NYT) menggunakan gambar satelit, video yang telah diverifikasi, dan unggahan media sosial memberikan informasi lebih lengkap tentang teknik serangan tersebut.
1. Serangan Presisi
Analisis citra satelit dari Planet Labs menunjukkan bahwa gedung sekolah mengalami kerusakan berat akibat serangan yang sangat tepat sasaran.
Wes J. Bryant, ahli keamanan nasional dan mantan konsultan harmoni sipil di Pentagon, menyebut serangan tersebut sebagai “target strikes” yang sempurna secara teknis.
2. Konteks Lokasi
Ledakan terjadi sekitar pukul 11.30 waktu setempat, bersamaan dengan serangan terhadap pangkalan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang berada tepat di seberang sekolah.
3. Pengenalan Target yang Tidak Tepat
NYT menemukan bahwa gedung sekolah tersebut pada awalnya merupakan bagian dari pangkalan angkatan laut IRGC pada tahun 2013.
Namun, citra satelit sejak tahun 2016 menunjukkan bahwa bangunan tersebut telah dibatasi dan diubah menjadi sebuah sekolah, lengkap dengan lapangan olahraga serta area rekreasi yang terlihat jelas dari udara.
4. Bukti Video
Video yang diambil oleh pengemudi menunjukkan gumpalan asap tebal yang muncul dari pangkalan militer Iran dan sekolah secara bersamaan.
5. Postingan media sosial mengenai konferensi pers terkait penempatan pasukan Amerika Serikat dan peta operasi
Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, dalam konferensi pers memperlihatkan peta operasi yang menunjukkan bahwa wilayah termasuk Minab memang menjadi target serangan selama “100 jam pertama” operasi militer Amerika Serikat di Iran.
Ia membenarkan bahwa pasukan tempur kapal induk USS Abraham Lincoln terus memberikan tekanan sepanjang pantai timur laut dan Selat Hormuz, guna melemahkan kemampuan angkatan laut Iran.
Ini memperkuat kecurigaan bahwa aset militer Amerika Serikat adalah pihak yang paling mungkin melakukan serangan di kawasan selatan, sementara pasukan Israel lebih sering bergerak di wilayah utara Iran.
Perdebatan
Penelitian ini selanjutnya memicu perdebatan tentang kemampuan intelijen Amerika Serikat.
Beth Van Schaack, ahli hukum hak asasi manusia dari Universitas Stanford, mengatakan bahwa dengan kemampuan intelijen Amerika Serikat yang sangat maju, seharusnya mereka mengetahui adanya sekolah di lokasi tersebut.
Muncul dugaan kuat adanya “target misidentification” (salah identifikasi target), di mana militer AS menyerang lokasi tersebut tanpa menyadari—atau sengaja mengabaikan—bahwa bangunan tersebut telah berubah fungsi menjadi fasilitas sipil yang penuh dengan anak-anak.







