Foto mencekam jalan akses Dieng tersisa aspal 1 meter via Karangkobar-Batur

Headline31 Dilihat

Ringkasan Berita:

  • Jalan Kabupaten yang melalui Karangkobar-Batur di Desa Ratamba hampir terputus sama sekali akibat pergerakan tanah yang disebabkan oleh lapisan batuan yang rentan dan curah hujan tinggi sejak awal 2026.
  • Kerusakan mencakup permukaan jalan yang mengelupas sepanjang 50 meter serta longsoran tebing sepanjang 300 meter yang menyebabkan jembatan miring dan tiang listrik roboh.
  • BPBD Banjarnegara saat ini menetapkan status darurat dan merekomendasikan perpindahan jalur sebagai solusi jangka panjang karena lokasi tersebut berada di zona merah.

 

nusantarasibernews.com, BANJARNEGARA– Kumpulan foto-foto berikut ini menunjukkan betapa mengerikannya keadaan Desa Ratamba, Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara yang hampir terputus akibat pergerakan tanah yang menyebabkan longsoran

Di manakah jalan utama Karangkobar-Batur kini hanya menyisakan tepian jurang yang terbuka akibat dampak longsoran dan pergerakan tanah yang semakin besar.

Gerakan tanah di berbagai lokasi menghalangi kendaraan empat roda untuk melewati jalan.

Masyarakat yang tinggal di sekitar area tersebut menghadapi ancaman besar terhadap keselamatan dan mobilitas harian mereka.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan tebing di bawah permukaan jalan mengalami penurunan cukup dalam sehingga membentuk jurang yang lebar.

Beberapa bagian jalan tampak berada tepat di sisi lereng, di mana tanah dan batuan mengalir hingga ke aliran sungai yang berada di bawahnya.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Banjarnegara, Aji Piluroso menyampaikan, sejak awal tahun 2026, pihaknya telah melakukan pengawasan berkala guna mengevaluasi kerusakan dan ancaman yang mungkin terjadi.

“Pengawasan pertama, pada 12 Februari 2026, menunjukkan beberapa kerusakan yang cukup parah,” katanya, Jumat (6/3/2026).

Pada salah satu bagian jalan, terjadi longsoran tanah sepanjang sekitar 50 meter, sehingga hanya tersisa ruang selebar satu meter yang bisa digunakan.

Jembatan pada ruas tersebut juga mengalami penurunan di bagian pendukung atau abutment jembatan.

Sementara tebing jalan di sekitar pemukiman Dusun Kaliireng mengalami longsor dengan panjang sekitar 300 meter.

“Peristiwa ini sebenarnya telah terjadi sejak Januari 2025, tetapi semakin memburuk karena hujan lebat yang terus-menerus,” katanya.

Pengawasan kedua, pada 2 Maret 2026, menunjukkan situasi yang semakin memburuk.

Jalan di wilayah yang paling parah terkena longsor kini sepenuhnya tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor empat roda, dan satu tiang listrik ikut terbawa oleh longsoran.

“Pada saat itu PLN sedang melakukan perpindahan jaringan listrik guna menghindari risiko lebih lanjut,” tambahnya.

Pengawasan ketiga pada 4 Maret 2026 memperkuat status darurat, di mana jalan di lokasi longsoran utama hanya memiliki saluran air dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan apa pun.

Tiang listrik yang telah dipindahkan tetap dalam kondisi aman, meskipun sekarang berjarak sekitar tujuh meter dari tebing yang longsor.

Jalan Alternatif

Di sisi lain, bagi warga dan pengemudi yang ingin menuju Dieng dari Banjarnegara, tersedia jalur alternatif melalui Wanayasa dan Pejawaran.

“Jalan alternatif dapat melalui Wanayasa, Pejawaran,” katanya saat dihubungi.

Selanjutnya dijelaskan, secara geologis, Desa Ratamba berada di daerah perbukitan dengan kemiringan antara 20 hingga 35 derajat pada ketinggian sekitar 1.260 meter di atas permukaan laut.

“Tanah di wilayah ini terdiri dari lapisan napal dan batulempung yang cukup rentan, diselingi dengan lapisan pasir vulkanik, sehingga mudah terkikis ketika hujan lebat,” jelasnya.

Meskipun tidak berada dalam area patahan aktif, longsoran sebelumnya menunjukkan adanya pergeseran patahan di kawasan Kaliireng pada Januari 2025, yang tetap aktif terutama ketika hujan lebat terjadi.

Bahaya pergerakan tanah semakin memburuk akibat aliran Sungai Bojong yang belum dinormalkan.

Warga memanfaatkan pinggir sungai sebagai lahan pertanian palawija, sehingga kenaikan debit air saat hujan berisiko menyebabkan longsoran terulang.

Wilayah ini masuk dalam zona merah yang menunjukkan risiko gerakan tanah berdasarkan Peta PVMBG Badan Geologi, sehingga menjadi salah satu area yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Di tengah upaya mengurangi risiko bencana, BPBD Banjarnegara bekerja sama dengan instansi terkait mengusulkan tindakan darurat serta solusi jangka panjang.

Pemasangan tanda peringatan di lokasi-lokasi penting merupakan langkah pertama untuk memberi peringatan kepada penduduk dan pengemudi.

Penutupan celah tanah dengan bahan tahan air dilakukan guna mengurangi kerusakan yang lebih parah.

Untuk pengelolaan jangka panjang, disarankan untuk memindahkan jalur jalan agar tidak berada di area yang rentan, atau menangani langsung di lokasi dengan pembersihan Sungai Bojong sepanjang sekitar satu kilometer, pemasangan bronjong pada tebing sungai, serta pembuatan dinding penahan tanah di sisi lereng dekat badan jalan. (ima)

Baca Juga  Pemerintah Bersiap Hadapi Perang Global: APBN Aman, Stok BBM Cukup 20 Hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *