Iklan Sponsor

Kondisi Politik Puncak Kelahiran Orde Reformasi di Indonesia


Artikel ini akan menjelaskan latar belakang politik yang mendorong terbentuknya era Reformasi di Indonesia. Selain itu, kita juga akan melihat berbagai keadaan yang turut membentuk periode tersebut.



⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Tengah Artikel
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang



Nusantara Siber Newshadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini




Nusantara Siber NewsOnline.com –

Reformasi merupakan salah satu tahap krusial dalam lingkungan demokrasi di Indonesia. Tahapan ini mengisyaratkan jatuhnya rezim Orde Baru.

Artikel ini akan jelaskan kondisi politik yang mengawali lahirnya masa orde reformasi di Indonesia. Juga, situasi-situasi seperti apa saja yang mempengaruhinya.

Masa Reformasi merupakan periode kepemimpinan di Indonesia setelah era Orde Baru atau kepresidenan Soeharto. Periode ini dikenal karena beberapa peristiwa signifikan, termasuk krisis ekonomi yang mempengaruhi negara mulai tahun 1997.

Reformasi era dimuali pada tanggal 21 Mei 1998, ketika Soeharto mundur dari jabatan serta berakhirnya pemerintahannya yang telah bertahan selama tiga puluh tahun. Kemudian, posisi tersebut diambil alih oleh BJ Habibie hingga pemilihan umum 1999 digelar.


Latar Belakang Era Rofermasi

Krisis keuangan tahun 1997 dapat dianggap sebagai akar masalah utama yang mengakibatkan Soeharto turun dari posisi presiden setelah memegang jabatan tersebut selama tiga dekade. Pada masa itu, perekonomian Indonesia sedang dalam kondisi lemah dan terus menurun, menyebabkan rasa tidak puas di kalangan masyarakat.

Keadaan tersebut menimbulkan kekecewaan di tanah air, dan seiring perluasannya, hal ini menyebabkan munculnya protes massal yang digerakkan oleh pelajar dari seluruh daerah Indonesia.

Tidak jauh berbeda, kerusuhan muncul di nyaris semua wilayah di Indonesia. Hal ini mengakibatkan pemerintah era Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto merasakan beban besar akibat tekanan politik dari negara lain dan juga internal negerinya sendiri.

Luar negeri, khususnya Amerika Serikat, dengan tegas mendesak Soeharto untuk melepaskan diri dari posisinya sebagai Presiden. Sementara itu, di dalam negri, muncul demonstrasi besar-besaran oleh kalangan mahasiswa yang berdemonstrasi di jalanan guna menekan Soeharto supaya mundur dari tampuk kepemimpinan.

Kepemimpinan Soeharto mulai mendapat perhatian khusus setelah kejadian Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998, saat empat mahasiswa tewas ditembak yang kemudian menimbulkan kerusuhan besar-besaran beberapa hari setelahnya. Tuntutan rakyat terhadap pengunduran diri Soeharto meningkat pesat ketika lebih kurang 15.000 pelajar merebut Gedung DPR/MPR; hal ini menyebabkan aktivitas pemerintahan secara nasional ikut terhenti.

Baca Juga  Polemik Pemerintah Terbaru: Mengapa Ini Menguji Kemanusiaan Kita?

Soeharto pada masa tersebut yang telah menghadapi banyak tekanan tetap mencoba mempertahankan posisinya sebagai presiden melalui reshuffle kabinet serta pembentukan Dewan Reformasi. Namun, protes dari kalangan mahasiswa ini akhirnya mendorong Presiden Soeharto tidak punya opsi lain selain mundur dari jabatannya.

Pada tanggal 21 Mei 1998 di Istana Merdeka, Presiden Soeharto dengan sah mengumumkan pensiunnya dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia. Mengacu pada Undang-Undang Dasar tahun 1985 pasal 8, Soeharto lalu memastikan bahwa Wakil Presiden BJ Habibie dilantik oleh Mahkamah Agung guna melanjutkan tugas tersebut. Dari momen ini, kendali negara pindah dari tangannya kepada BJ Habibie yang kemudian mencetuskan periode reformasi dalam sejarah negeri kita.

Pergerakan Reformasi merupakan suatu momen penting dalam sejarah Indonesia, karena berhasil mengakhiri kekuasaan pemerintahan Orde Baru yang diprakarsai oleh Soeharto setelah bertahan selama tiga puluh dua tahun, yaitu mulai tahun 1966. Tujuan utama dari pelaksanaan reformasi tersebut antara lain:

1. Meminta penurunan biaya hidup esensial yang telah meroket sejak Juli 1997.

2. Mendesak MPR agar tidak mengusulkan Soeharto menjadi calon presiden untuk masa jabatan kelima tujuhannya.

3. Mendekati jatuhnya Soeharto, sejumlah pejabat menandai perjanjian simbolis serta menerapkan berbagai keputusan ekonomi sebagai upaya untuk meredam situasi dan menjaga kedaulatan mereka (membeli waktu).

Reformasi telah memberi beberapa pengaruh besar terhadap Indonesia. Beberapa diantaranya ialah:

1. Kemerdekaan dalam menyampaikan pendapat yang kian meningkat

Pasca-reformasi, masyarakat diberi kebebasan untuk menyuarakan pandangan mereka. Presiden BJ Habibie membuka kesempatan bagi semua pihak yang berkeinginan mengekspresikan sudut pandangnya, entah itu melalui pertemuan publik ataupun protes atau demo.

Bagi para mahasiswa yang berencana menggelar protes, mereka harus memperoleh persetujuan dari aparat polisi serta menunjukkan tempat dimana aksi tersebut akan diselenggarakan sebagai langkah awal.

Ini dijalankan berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1997 tentang Kepolisan Republik Indonesia.

2. Bubarnya Dwifungsi ABRI

Setelah pelaksanaan reformasi, pengaruh ABRI dalam lembaga perwakilan rakyat DPR mulai diperkecil secara bertahap; jumlahnya mengecil dari sebanyak 75 orang menjadi hanya 38 orang. Sebelumnya, ABRI melibatkan empat cabang militer, yaitu TNI AD atau Angkatan Darat, TNI AL atau Angkatan Laut, TNI AU atau Angkatan Udara, serta Polri.

Namun, mulai tanggal 5 Mei 1999, Polri sudah terpisah dari ABRI dan mengganti namanya menjadi Kepolisian Negara, sementara istilah ABRI berubah menjadi TNI.

Baca Juga  Soal Hasto Diinterogasi Riezky di Pengadilan, Respon Politikus PDIP Guntur

3. Reformasi Bidang Hukum

Pada masa pemerintahan BJ Habibie dilakukan reformasi di bidang hukum, di mana reformasi hukum ini disesuaikan dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat. Tindakan BJ Habibie terkait reformasi hukum ini pun disambut dengan baik oleh masyarakat luas, karena reformasi hukum ini mengarah kepada tatanan yang diharapkan masyarakat.

Pada era Orde Baru, sistem hukum di Indonesia umumnya menunjukkan sifat-sifat konservatis, ortodoksi, serta elitisme. Sementara itu, hukum ortodok memang dikenal sebagai jenis hukum yang tertutup, oleh karena itu masyarakat secara keseluruhan tidak punya bagian apa pun didalam proses tersebut.

Hukum pada masa Orde Baru ini pun kemudian dianggap sebagai bentuk hukum yang mengebiri Hak Asasi Manusia (HAM). Oleh karena itu, hukum di era Orde Baru tidak lagi diterapkan pada masa reformasi, karena di era ini, BJ Habibie ingin menciptakan hukum yang dapat menjamin keamanan perlindungan HAM.

Reformasi pun dikenali melalui sejumlah kejadian, termasuk munculnya pelbagai protes, yang sampai-sampai mengakibatkan pertikaian.

1. Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti merupakan salah satu peristiwa yang paling mengesankan selama masa Orde Baru. Kejadian tersebut berlangsung pada tanggal 12 Mei 1998, ketika empat orang pelajar yang melakukan protes untuk meminta Soeharto mundur dari posisi kepresidenan ditembak dan meninggal dunia.

Mereka terdiri atas Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977-1998), Hafidin Royan (1976-1998), serta Hendriawan Sie (1975-1998).

2. Insiden Berdarah di Medan 1998

Pada masa ketika Kerusuhan Mei 1998 sedang mencapai puncaknya, salah satu wilayah yang turut dilanda konflik dan kekerasan adalah Kota Medan. Peristiwa kelam itu tercatat pada tanggal 6 Mei 1998. Di sana, kota tersebut menghadapi gangguan besar yang nyaris memparalyze seluruh aktivitas normal masyarakat setempat.

Pada saat tersebut, banyak sekali toko-toko yang dihancurkan, beberapa kendaraan terbakar, selain itu lima individu meninggal dunia dan belasan lainnya cedera karena peristiwa protes yang dilangsungkan oleh mereka.

3. Bencana Gejayan atau Peristiwa Yogyakarta

Peristiwa Tragedi Gejayan merupakan suatu konflik kekerasan yang terjadi pada hari Jumat, 8 Mei 1998 di kawasan Gejayan, Yogyakarta. Aksi kerusuhan tersebut disebabkan oleh sejumlah pendemo yang melakukan protes dengan mendesak agar Soeharto harus turun dari posisi kepemimpinannya.

Dari insiden tersebut, muncul berbagai bentrokan antara petugas dan mahasiswa di Yogyakarta yang mengakibatkan ribuan orang luka-luka, termasuk satu jiwa tewass, yaitu Moses Gatutkaca.

Baca Juga  Kasus Viral Terbaru vs Isu Lama: Mana yang Layak Dipercaya?

4. Bencana Pemerasan dan Sentimen Agama menjelang Reformasi tahun 1998

Setelah peristiwa kekerasan berdarah mereda di beberapa wilayah Indonesia, kondisi Kota Jakarta menjadi tegang lagi antara tanggal 13 hingga 15 Mei 1998. Saat itu, negeri ini sedang dilanda krisis ekonomi dengan utang yang melilit serta nilai tukar dolar Amerika Serikat yang naik pesat.

Belum berakhir dari masalah keuangan, suatu bencana lagi pun terjadi dimana pasar-pasar dibakar dan wanita keturunan Tionghoa menjadi korban perlakukan tidak senonoh secara seksual. Ribuan orang dilaporkan hilang atau meninggal selama insiden tersebut.


Kronologi Reformasi

– 5 Mei 1998

20 mahasiswa dari Universitas Indonesia mengunjungi Gedung DPR/MPR guna menentang pidato pertanggungjawaban yang dibacakan dalamSidang Umum MPR.

– 11 Maret 1998

Soeharto serta BJ Habibie diberkati sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

– 14 Maret 1998

Soeharto menyampaikan kabinet baru bernama Kabinet Pembangunan VII.

– 15 April 1998

Soeharto meminta mahasiswa menghentikan aksi demonstrasi dan kembali ke kampus.

– 1 Mei 1998

Soeharto lewat Menteri Dalam Negeri serta Menteri Penerangan Alwi Dachlan menyebutkan bahwa proses reformasi hanya dapat dimulai pada tahun 2003.

– 2 Mei 1998

Soeharto memperbaiki keterangannya, menyebutkan bahwa reformasi dapat dijalankan mulai saat itu (1998).

– 4 Mei 1998

Mahasiswa dari Medan, Bandung, dan Yogyakarta menggelar protes massal pada tanggal 2 Mei 1998 terkait dengan peningkatan tarif bahan bakar minyak.

– 5 Mei 1998

Terdapat protes massal oleh pelajar di Medan yang kemudian memuncak dalam kericuhan.

– 12 Mei 1998

Petugas kepolisisan mengarahkan tembakan pada empat mahasiswa dari Universitas Trisakti yang sedang melakukan protes dengan cara yang tenang dan damai.

– 13 Mei 1998

Mahasiswa dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi berkumpul di Kampus Trisakti untuk mengekspresikan kesedihan mereka yang kemudian memicu kerusuhan.

– 14 Mei 1998

Soeharto bersedia mengundurkan diri.

– 15 Mei 1998

Soeharto membantah bahwa dia ingin mengundurkan diri dari jabatannya.

16 Mei 1998

Warga asing berbondong-bondong kembali ke negeri mereka.

21 Mei 1998

Di Istana Merdeka, pukul 09.05, Soeharto menyatakan mundur dari kursi Presiden dan BJ Habibie disumpah menjadi Presiden RI ketiga.

⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Banner After Content
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *