⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Banner Header Atas
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

Pembuat Genteng di Belo Laut Bangka Barat Berpindah ke Produksi Bata Merah

Headline74 Dilihat

nusantarasibernews.com, BANGKA– Di bawah terik sinar matahari siang, Suroto (50) dengan tekun memproduksi batu bata satu per satu di bawah atap pondok berbahan daun rumbia, Kamis (12/2/2026).

Dengan kaus biasa dan celana pendek, tangannya gesit mengolah tanah liat yang menumpuk di belakang rumah sederhana: diaduk, ditumpuk, dicetak, dikeringkan hingga dibakar dengan kayu bakar. Istrinya yang setia membantu di sisi lain, memastikan proses produksi berjalan lancar.

⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Tengah Artikel
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

Perusahaan bata merah yang dijalaninya selama 20 tahun menjadi bukti ketekunan dan perjuangan hidupnya di Dusun III, Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Setiap harinya, Suroto memproduksi sekitar 1.000 batu bata berukuran 20×10 cm dan 800 batu batako.

“Saat ini fokus usaha saya adalah bata merah dan batako. Genteng sudah tidak diproduksi lagi karena permintaan menurun,” katanya.

Menurut Suroto, genteng memerlukan banyak bahan pendukung seperti kayu dan reng sehingga biaya pemasangan menjadi mahal. Sementara atap asbes lebih mudah digunakan, cepat dipasang, dan lebih hemat biaya.

Dulunya, genteng yang ia buat dijual dengan harga Rp 2.000 per biji. Kini, bata merah dan batako ditawarkan dengan harga Rp 2.200 per biji, meskipun bahan dan cara pembuatannya hampir sama.

“Bahan tetap berupa tanah liat, hanya cetakan dan metode pembuatannya yang berbeda. Sekarang fokusnya hanya pada bata merah dan batako, permintaan pasar memang sedikit,” katanya.

Suroto berharap usaha kecil yang dimilikinya tetap bertahan agar masyarakat sekitar masih memiliki kesempatan untuk bekerja.

Ia juga menyoroti tingginya tingkat pengangguran, khususnya di kalangan pemuda, akibat sedikitnya kesempatan kerja.

“Harapan saya adalah adanya program gentengisasi yang dapat membantu masyarakat. Banyak pemuda ingin bekerja, tetapi mencari pekerjaan sangat sulit,” keluhnya.

Baca Juga  Honor Ratusan Juta Diduga Raib, Kades Karang Bahagia Malah Bikin Surat Perjanjian

Dukungan serupa juga datang dari Pemerintah Desa Belo Laut. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Suhaidir atau Kojek, menyatakan bahwa pemerintah desa mendukung program gentengisasi, yang menurutnya merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Di masa lalu, banyak pabrik atau usaha pembuatan genteng berada di Desa Belo Laut. Kini sebagian dari mereka hanya bertahan dengan menggunakan bata merah dan batako karena biaya operasional meningkat serta daya beli masyarakat menurun. Sebagian lainnya beralih ke penggunaan asbes dan seng,” ujar Kojek.

Ia mengatakan bahwa saat ini masih terdapat tiga hingga empat lokasi pengolahan bata merah dan batako yang berjalan normal.

Kojek percaya bahwa produksi genteng masih memiliki kesempatan untuk berkembang jika ada program pemberdayaan pemerintah yang diterapkan secara menyeluruh.

“Kami mendukung pengembangan genteng. Jika ada pengusaha atau perusahaan yang memproduksi genteng kembali, yang terpenting adalah mampu menangani biaya dan mengurangi angka pengangguran di Desa Belo Laut,” ujarnya.

Peninggalan Kolonial

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Belitung serta pengamat budaya setempat, Wahyu Kurniawan, mengkritik wacana gentengnisasi yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan Wahyu, gagasan tersebut bersifat positif, tetapi perlu memperhatikan aspek budaya dan peraturan setempat.

“Konsep Presiden bagus, tetapi dalam penerapannya tetap perlu memperhatikan Undang-Undang Kebudayaan,” katanya.

Ia menyampaikan, setiap wilayah memiliki ciri khas dalam arsitektur tradisional. Belitung memiliki Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung yang menekankan keunikan arsitektur setempat.

“Sejarah mencatat bahwa bangunan beratap genteng mulai muncul pada abad ke-20, terutama pada bangunan kolonial dan beberapa rumah bangsawan dari Palembang. Secara budaya, genteng bukan merupakan tradisi lokal,” jelasnya.

Oleh karena itu, Wahyu berpendapat bahwa gentengnisasi sebaiknya dimulai dari bangunan milik pemerintah, bukan diterapkan langsung kepada seluruh masyarakat.

Baca Juga  Program MBG, Mulia Atau Bencana?

“Jika dipaksa, tidak akan menjadi budaya. Teknik membangun rumah dengan genteng belum dikenal di sini, masyarakat perlu terlebih dahulu belajar,” tegasnya.

Penerapan di gedung pemerintah yang memiliki jejak kolonial, seperti kantor dinas atau bangunan nasional, dianggap mampu menjadi contoh dan inspirasi.

Selain budaya, ia menyoroti ketersediaan serta harga bahan material. Genteng belum diproduksi secara luas di Belitung, sehingga harga bisa mengalami kenaikan.

“Waktu renovasi museum, biaya genteng tinggi karena harus membelinya dari luar daerah,” katanya.

Meskipun demikian, Wahyu melihat potensi produksi lokal jika bahan baku dikembangkan, mengingat Belitung memiliki bata merah sebagai bahan baku, meski diperlukan penelitian mengenai kesesuaian tanah liat.

Genteng memiliki ketahanan yang kuat. Ia memberikan contoh atap Museum Tanjungpandan di Belitung yang dibangun pada tahun 1910; gentengnya masih utuh hingga tahun 2026, meskipun sebagian telah diganti demi keakuratan.

Genteng asli masih tersedia, terlihat dari tulisan Tan Liok Tiaw Batavia Java dan Fabriek Tan Liok Tiaw Tangerang. Hanya warnanya berubah akibat lumut, namun bentuknya tetap kuat. Belitung tidak pernah menghasilkan genteng.

sendiri; semua berasal dari Tangerang, atap perabong dari Palembang,” jelasnya.(riu/dol)

⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Banner After Content
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *